Senin, 06 April 2009

Persiapkan Khitan Atau Sunat Untuk Anak

//1.bp.blogspot.com/_ZVwLGN3UwwE/SdnggVDMTnI/AAAAAAAABkA/yIVYtuQdDeI/s200/circumcision//4.bp.blogspot.com/_ZVwLGN3UwwE/SdngT5ypigI/AAAAAAAABj4/cfhyX6_Ig4w/s200/sunat_dulu

Khitanan atau sunatan seringkali membingungkan orang tua yang memiliki anak laki-laki. Mulai dari menentukan kapan saat yang tepat, metode khitan atau sunat terbaik sampai dimana tempat untuk melakukan khitan atau sunat itu dilaksanakan. Ada yang ikut program khinanan massal, ada yang memilih pusat-pusat pelayanan khusus khitanan atau ada juga yang lebih suka dikhitan di rumah. Diantara sekian banyak pilihan, orang tua hanya mengharapkan satu hal : anak mendapatkan pelayanan khitan yang terbaik. Artinya orang tua ingin proses khitan itu berjalan lancar dengan rasa nyeri yang minimal, penyembuhan yang cepat dan hasil yang baik.


Manfaat Khitan atau Sunat

Bisa dikatakan bahwa manusia sangat berpengalaman dengan tindakan pembuangan sebagian atau seluruh kulup (prepusium) penis ini. Dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari zaman batu dan makam Mesir purba, khitan atau sunat diketahui telah dilakukan sejak jaman prasejarah hingga saat ini. Khitan atau sunat adalah salah satu tindakan bedah minor (bedah kecil) yang paling banyak dilakukan di seluruh dunia. Ada yang melakukannya karena alasan agama, budaya atau juga alasan kesehatan. Apapun yang melatar belakanginya, dari sudut pandang kesehatan sangat bermanfaat. Pengorbanan yang dialami oleh anak dan orang tua saat khitan sama sekali tidak sia-sia di kemudian hari. Khitan tidak hanya bermanfaat untuk individu yang melakukannya tapi juga bagi orang lain dan komunitas masyarakat secara keseluruhannya.

Walaupun tidak merekomendasikan khitan sebagai sebuah prosedur rutin yang harus dilakukan, The american Academy of Pediatrics (AAP) tetap mengakui bahwa khitan atau sunat dapat mencegah terjadinya infeksi saluran kencing pada anak-anak. Masih menurut AAP, khitan atau sunat juga dapat mencegah terjadinya kanker pada daerah kelamin pria. Bahkan pada beberapa keadaan tertentu yang berkaitan dengan penyakit dan kelainan bawaan pada alat kelamin, khitan merupakan tindakan yang sangat dianjurkan.

Khitan atau sunat pada pria, ternyata juga bisa berdampak positif pada wanita. Sebuah penelitian dalam New England Journal of Medicine mengemukakan bahwa wanita yang pasangan seksualnya telah dikhitan atau sunat memiliki resiko yang lebih renda untuk mengalami kanker Cervix. Dr. Xavier Castellsague yang memimpin penelitian itu telah memperhatikan data-data dari tujuh penelitian yang dilakukan lima negara di berbagai belahan dunia. Ternyata 20% pria yang tidak di khitan atau sunat di ketahui "membawa" Human Papillomavirus (HPV), sedangkan pada pria yang dikhitan atau sunat hanya berkisar 6% saja. Virus tersebut diperkiraka bertanggung jawab terhadap 99% kasus kanker cervix. Para peneliti juga memperkirakan resiko wanita untuk mengalami kanker cervix menurun hingga 58% jika partner seksualnya dikhitan atau sunat.

Bagamana Cara Khitan atau Sunat Yang Terbaik

Pertanyaan ini seringkali orang tua sederhanakan menjadi pilihan metode yang banyak ditawarkan saat ini. Apakah dengan metode Kauter atau Laser lebih baik daripada metode konvensional ?. Jawabannya tidak sederhana pertanyaannya. Untuk mendapatkan proses dan hasil khitan yang terbaik sesuai dengan harapan orang tua dan anak tdak hanya bergantung pada metode yang dipilih. Tetapi sangat tergantung dari kesiapan anak, orang tua dan tentu saja operator (tenaga medis yang mengkhitan). Anak yang fisiknya dan psikisnya tidak siap, berpotensi menghambat kelancaran proses khitan atau sunat dan proses penyembuhannya.

Seringkali anak meronta-ronta berusaha menggagalkan khitanan itu dengan tindakan fisik semampu yang ia bisa. Tapi jangan sekali-kali menyalahkan anak, baik dengan perkataan ataupun dengan hukuman fisik. Melihat anaknya tak mau diam, seringkali orang tua tersulut emosinya. Anak dibentak, diancam dan bahkan kadang-kadang ada yang sampai "dihadiahi" cubitan. Hasil dari semua bentuk intimidasi itu bisa diduga, anak justru memberontak lebih hebat lagi. akibatnya khitanan atau sunatan berlangsung semakin lama dan semakin sulit. Perlu diingat bahwa ketidaksiapan anak sebagian besar diakibatkan oleh ketidaksiapan orang tua. Pemberontakan itu tentu tidak akan muncul jika sejak jauh-jauh hari orang tua telah melakukan pendekatan yang tepat pada anak.

Jangan bohongi anak. katakan sejujurnya dengan cara sehalus mungkin bahwa akan timbul sedikit rasa nyeri saat penyuntikan obat anestesi (kebal) dilakukan. Berikan pula motivasi agar anak punya tekad dan keberanian untuk dikhitan atau sunat. Ajarkan anak untuk mengalihkan rasa takut selama khitanan berlangsung. Ada yang melakukannya dengan mengaji, berdoa atau bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan pada orang tua yang mendampinginya. Cara-cara seperti itu seringkali terbukti ampuh untuk menenagkan anak. Kalaupun anak masih menagis biarkan saja dan tidak perlu memaksanya untuk diam. Sepanjang tidak meronta, tangisan anak pada umumnya tidak menghambat kelancaran khitan. Dampingi dan besarkan hatinya dan jagalah agar anak tidak gelisah.

Sambil menyiapkan kondisi psikis anak siapkan pula kondisi fisiknya. Jaga kesehatan anak sebelum adan sesudah di khitan atau sunat agar proses penyembuhan bisa berlansung lancar. Selain itu, sebelum pelaksanaan khitan ada baiknya dilakukan wawancara oleh tenaga medis untuk menggali ada tidaknya kondisi-kondisi tertentu yang memerlukan penanganan dokter spesialis. Misalnya, ada gangguan pembekuan darah (Hemofilia) atau kelainan anatomi penis seperti kelainan saluran keluar (Hipospadia). Operator pun selayaknya mengupayakan agar khitanan yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar, termasuk memenuhi syarat sterilitas alat atau tindakan. Dengan memperakkan prosedur tindakan dan sterilitas yang benar, apaun metode khinatan yang digunakan oleh operator sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan oleh orang tua. Perdedaan dari metode konvensional dengan metode kauter atau laser hanya terletak pada alat yang digunakan untuk memotong kulup penis.

Dengan kauter atau laser memang sangat minim pendarahan. Kelebihan ini membuat kauter atau laser lebih disukai oleh operator dan pasien. Namun bukan berarti dengan metode konvensional pendarahan yang terjadi tidak dapat ditanggulangi. Pendarahan dapat dikendalikan sepenuhnya dengan mengikat pembuluh darah yang terpotong. Jadi tidak ada metode yang secara absolut bisa dikatakan lebih baik daripada metode lainnya. Pilihan yang dibuat benar-benar berdasarkan pertimbangan individual semata.

Perawatan Pasca Khitan Atau Sunat


Hari pertama setelah anak khitan anak sebaiknya beristirahat, selanjutnya boleh bergerak seperti biasa. Jagalah luka khitan agar tidak basah oleh air hingga luka tersebut kering dan balutan dilepaskan. Pembalut diganti setiap tiga hari dan biasanya bertepatan dengan waktu kontrol yang ditetapkan oleh operator. Selain perawatan luka, pasien juga dibekali dengan beberapa obat yang harus diminum. Ada antibiotik, penghilang rasa nyeri, obat anti peradangan dan vitamin. Pada keadaan tertentu tidak tertutup kemungkinan diberi obat lainnya.

Pasien tak harus mengenakan sarung, yang penting celana yang digunakan cukup longgar dan tidak menekan penis. Masalah makanan pun tak perlu ada pantangan, jika memungkinkan pasien dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya protein untuk mempercepat penyembuhan. Dengan perawatan yang benar, luka khitan atau sunat dapat sembuh sempurna dalam waktu sekitar 10-14 hari.

Jika setelah khitan terjadi pendarahan yang tak kunjung berhenti segeralah hubungi operator yang mengkhitan untuk mendapatkan pemeriksaan dan tindakan yang diperlukan. Selain pendarahan, pasca khitan memang terkadang muncul pula beberapa komplikasi berupa rasa nyeri, bengkak dan mungkin juga infeksi. karena itu orang tua harus memperhatikan dengan seksama pengarahan yang disampaikan pasca khitan dan menepati jadwal kontrol yang telah di tetapkan. ***(dr. andi. w)

Post To Blog : Abdi R

9 komentar:

Slamet mengatakan...

Kata orang, sunat dengan laser hasilnya kurang bagus kalau dibandingkan dengan cara konvensional, karena memotongnya tidak mengikuti bentuk kulupnya (hanya lurus). Apakah betul ya...
Thanks

dari
Slamet W

indra mengatakan...

khitan secara laser atau menggunakan pemanas mengurangi efek teririsnya penis yang dapat menimbulkan infeksi, jadi lebih baik menggunakan laser

hpnugroho mengatakan...

Iya nih, rencana mau khitan anak pertama, tapi masih bingung mo pake laser apa biasa. Plus , perlu gak sih slametan sebelum dan sesudah acara ini ?

syamil mengatakan...

kalo pake cara biasa kulup bisa dibentuk,laser tidak.laser lebih cepat kering,berabad-abad orang menggunakan cara konvensional,laser baru pada abad terakhir ini. mengingat sakitnya yang dirasakan anak boleh juga membesarkan hatinya dengan syukuran kecil-kecilan,karena ada juga penyembuhannya sampai 2 minggu.walaupun di ajaran islam tidak ada sunnah untuk dirayakan.

tari abraham mengatakan...

Minggu lalu nyunatin anak, yang mengerjakan dokter dgn alat electro cutter..ampun gak tega..anak saya jerit2..trus kok hasilnya bengkak2 (maaf kepala penisnya)..kenapa ya?..baru 5 hari sih..khawatir banget...

wenz mengatakan...

hei saya baru hem besok dah satu minggu sunat
tapi setiap hari nyeri gitu pas 1-4 har g dokterny bilang dah boleh jalan aku jalan
setelah ganti perban ke dua dokterny bilang dah boleh pake celana jadi pake celana jadiny sakit
gimana agar g sakit
cemas nih

CELANA KHITAN HELM PROTECTOR MAXI mengatakan...

Sekarang ada celana dalam khusus khitan untuk Anak pasca proses khitan.
Melindungi bagian sensitif agar terhindar dari benturan. Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada www.celana-khitan.blogspot.com

SARA mengatakan...

TEST

ibu awiek mengatakan...

kpn sih waktu yg tepat buat khitan, pagi hari sblm anak cape,atau sore/malam hari hari?

Poskan Komentar

 
SATRIA HARAPAN - Template By Blogger Clicks