Jumat, 12 September 2008

Dampak Labeling Terhadap Anak

bandel1Bodoh sekali sih kamu, Begitu saja salah, Tidak bisa!, Aduh...anak saya ini loh pemalu sekali!, Dasar anak bandel!...
Ya...beberapa orangtua pasti tidak asing dengan kalimat di atas, atau mungkin orangtua lain pernah mendengar (mengucapakan) versi-versi lain dari kalimat sejenis.
Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contoh di atas atau mungkin lebih parah lagi, tetapi bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisifat memuji tentang kehebatan atau kepintaran anaknya. Semua kalimat negatif dan positif yang selalu kita ucapakan kepada anak bisa disebut labeling.

Labeling
Labeling adalah sebuah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah defenisi diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu.

Dampak Terhadap Anak
Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan "seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian, dan diperlakukan seperti orang yang devian, akan menjadi devian". Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut : "anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel". Atau penerapan lain : "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Kalau begitu mungkin bisa juga seperti ini : anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar".

Pemikiran dasar teori labeling ini memang biasa terjadi, ketika sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang itu sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberi tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan diatas kemampuannya karena kita berfikir "ah, dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia".

Karena anak tersebut tiadak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang denganlebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang itu akan menguatkan pendapat/label orangtua bahwa si anak emang bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak tersebut untuk berusaha yang terbaik, lalu anak semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya.

Dengan ia bertindak sesuai labelnya orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. hal ini sudah menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan secara terus menerus. Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju, bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi.

Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga, tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi. Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya d tolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseprang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.

Saran Bagi Orantua
Adalah penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini diketemukan oleh sang anak lewat respon orang-orang sekitarnya (lingkungan), terutama orang terdekat yaitu : orangtuanya. Kalau respon orangtua positif tentunya tidak perlu dicemaskan akibatnya. Tetapi, adakalanya kita sebagai orangtua tidak dapat menahan diri, sehingga dengan mantapnya memberikan respon-respon negatif seputar perilaku anak. Walaupun sesungguhnya kita sebagai orangtua tidak bermaksud buruk dengan respon tersebut, namun tanpa disadari hal-hal yang dikatakan orangtua dan bagaimana orangtua bertindak, masuk dalam hati dan pikiran seorang anak akan berpengaruh dalam kehidupannya.

Beberapa Saran Bagi Orangtua
1. Berilah respon secara spesifik terhadap perilaku anak, dan bukan kepribadiannya. Kalau anak bertindak sesuatu yang tidak berkenan di hati, jangan merespon dengan memberi label, karena melabel berarti menunjuk pada kepribadian anak, seperti sesuatu yang diberi dan tidak bisa lagi diperbaiki. Contoh : Kalau anak tidak berani menghadapi orang baru, jangan katakan : "Aduh...kamu pemalu sekali", atau "Jangan penakut begitu dong Nak!", tetapi berilah respon dengan mengatakan : "Tidak kenal ya denga tante ini, jadi tidak mau menyapa. Nah...sekarang salam tantenya biar kenal. Kalau besok ketemu dengan tante ini, jadi mau menyapa". Kalau anak nakal (naughty), jangan katakan bahwa dia nakal tapi katakan bahwa perilakunya salah (misbehave). Anak-anak sering berperilaku salah, salain karena mereka memang belum mengetahui semua hal yang baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh, mereka juga suka menguji batas-batas dari orangtuanya. Misalnya, kakak merebut mainan adik, katakan : "Kakak, merebut mainan orang itu salah, tidak boleh begitu. Kalau main sama adik gantian ya", dan bukan mengatakan : "kakaaaaak...!, nakal sekali sih merebut mainan adiknya". Dengan demikian tidak ada pesan dan kesan negatif yang masuk dalam pikiran anak, dan bahkan anak didorong untuk mau bertindak benar di waktu berikutnya.

2. Gunakan label untuk kepentingan pribadi orangtua. Sebenarnya melabel tidak selamanya buruk, asalkan label tersebut digunakan orangtuauntuk dirinya sendiri, agar lebih memahami dinamika perilaku anak. Misalnya : "Anakku A lebih bodoh daripada anaku B". Tapi label tersebut tidak dikatakan di depan anak. Dengan mengetahui dinamika anak lewat label yang ada dalam pikiran orangtua sendiri, hendaknya orangtua menggunakan label tersebut untuk menyusun strategi selanjutnya, agar kekurangan anak dapat diperbaiki. Misalnya, setelah mengetahui A lebih bodoh daripada B, maka orangtua memberikan lebih banyak waktu untuk mengajarkan sesuatu dan mempersiapkan diri untuk lebih sabar jika menghadapi A.

3. Menarik diri sementar jika sudah tidak sabar. Adakalanya orangtua jika sudah tidak sabar selalu ingin melabel anaknya, misalnya : "Heeeeeeh...!, kamu goblok banget sih, 1+1 saja tidak tahu". Jika kesabaran sudah diambang batas, sebelum kata-kata "mutiara" keluar, ada baiknya orangtua menarik diri sementara dari anak, (time off) dengan alasan tertentu.

Bagaimana cara orangtua berbicara dan menanggapi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri anak, akan sangat berpengaruh bagi anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu orangtua harus sangat berhati-hati dan mempertimbangkan secara matang apa yang akan diucapkan pada anak. Ada pepatah jaman dulu kala mengatakan "Mulutmu Harimaumu", yang dalam hal ini mulut orantua bisa menjadi harimau bagi anak. Penting sekali orangtua selalu berkata-kata positif tentang anak, agar anak jadi berpikir positif tentang dirinya dan tumbuh dengan harga diri yang tinggi dilingkunganya dan perasaan dicintai dan diterima oleh orang-orang disekitarnya.

Rayan - Dimas
Sumber : Local News

4 komentar:

Obat Turunkan Berat Badan mengatakan...

Hello There. I discovered your blog the use of msn. That is a very well written article. I will make sure to bookmark it and come back to learn more of your helpful info. Thank you for the post. I will certainly return.

obat herbal faringitis mengatakan...

infonya sangat membantu
obat herbal faringitis

obat herbal tipes mujarab mengatakan...

artikelnya sangat bermanfaat
obat herbal tipes mujarab

obat gendang telinga pecah mengatakan...

salam sukses, semoga bermanfaat
obat gendang telinga pecah

Posting Komentar

 
SATRIA HARAPAN - Template By Blogger Clicks